kismantoro.com, KISMANTORO–Permasalahan sampah yang menumpuk tidak hanya terjadi di perkotaan saja namun sudah merambah dipedesaan karena meledaknya pertumbuhan penduduk, imbasnya juga semakin banyak sampah yang dibuang sembarangan, diakibatkan kurang sadarnya masyarakat dengan efek yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah, bahkan banyak selokan ataupun sungai tercemar oleh limbah sampah ini.

Sampah terbagi menjadi dua kriteria, yakni sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari sisa-sisa makhluk hidup yang mudah terurai tanpa campur tangan manusia, sampah ini bisa dikatakan ramah lingkungan, sedangkan  sampah anorganik sangat sulit terurai, bahkan bisa dikatakan tidak bisa terurai oleh alam, seperti plastik, tas plastik, kaleng, besi dan sebagainya.

Kegiatan ibu-ibu anggota kelompok bank sampah, menyortir dan memilih sampah yang akan dijual kembali (foto : admin)

Sebagai antisipasi penanggulangan penumpukan sampah yang sudah tidak terkontrol maka diperlukan upaya penanganan sampah yang maksimal. Di RT 04 RW 06 lingkungan Cingklok Kelurahan Gesing, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri sudah terbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang bernama “Mutiara Sari” sebagai bank sampah binaan dari PKH untuk mengelola sampah atau limbah rumah tangga masyarakat sekitar, KUBE tersebut beranggotakan 10 orang.

Agus Saryanto, S.T., selaku Koordinatior Pendamping PKH Kecamatan Kismantoro, dengan telaten mendampingi dan memberikan pembinaan kepada KUBE Bank Sampah “Mutiara Sari” penuh dedikasi yang sangat luar biasa. Sehingga sampah anorganik disulap menjadi barang yang bernilai ekonomis, hampir setiap sepekan sekali kelomok ini menyetorkan sampah ke pengepul dengan omset bersih berkisar Rp. 200.000,-. Kemudian dari hasil penjualan sampah tersebut dikembangkan lagi untuk modal.

Camat Wonogiri Kota (tiga dari kanan) bersama pendamping pkh wonogiri melakukan kunjungan ke kelompok Mutiara Sari (foto : admin)

Awalnya, kelompok bank sampah ini hanya mengambil sampah di satu lingkungan saja, namun dengan berkembangnya dan semangat kompok, saat ini sudah merambah ke beberapa desa tetangga, seperti Desa Gambiranom, Desa Lemahbang dan Kelurahan Kismantro, bahkan ada beberapa toko alat tulis dan fotocopy yang menjadi pemasok sampah paling banyak, yang rutin setiap dua minggu sekali, kelompok mengambil sampah kertas dan botol plastik ditoko tersebut.

Disebut bank sampah karena penjualan sampah warga menggunakan sistem pembayaran tidak langsung dibayar tunai, melainkan hasil penjualan sampah ditabung dikelompok “Mutiara Sari” sedangkan untuk penarikan uang penjualan sampah, nasabah diberi kebebasan untuk pengambilan sesuai waktu yang diinginkan.

Di lokasi kelompok bank sampah Mutiara Sari, lingkungan cingklok, kelurahan gesing, kecamatan kismantoro

Pendampingan dan pembinaan oleh petugas pendamping PKH dilaksanakan sebulan sekali, yakni pada tiap tanggal 8 sekaligus agenda pertemuan semua anggota kelompok KUBE dan dimaksudkan untuk memberikan motifasi dan sekaligus evaluasi perkembangan kelompok bank sampah ini.

Pada awal bulan Januari 2020 kemarin, kelompok ini memperoleh kehormatan dan apresiasi, pasalnya mendapatkan kunjungan kerja dari Camat Wonogiri Kota, Djoko Purwidyatmo, S.Sos., M.M., bersama para petugas Pendamping PKH dari Kabupaten Wonogiri.

Dalam kunjungan tersebut, Camat Wonogiri Kota, Djoko Purwidyatmo, S.Sos., M.M., yang kebetulan mantan Camat Kismantoro, menegaskan bahwa ia ingin terjun langsung ke kelomok KUBE Mutiara Sari, dengan harapan bisa menularkan ilmu kepada kelompok binaan PKH di kecamatan lainnya.Ia juga berpesan untuk selalu menjaga kekompakan dan mengembangkan usaha bank sampah di lingkungan masyarakat, karena selain mengurangi tumpukan sampah yang bisa merusak ekosistem alam, namun juga bisa untuk menambah perekonomian keluarga. [didik nh]

Tinggalkan Komentar