kismantoro.com, KISMANTORO–Suasana guyup rukun warga, keramahan dan kegotong-royongan yang mumpuni membuat hidup damai dalam kebersamaan. Inilah yang terlukis pada masyarakat di Desa Gambiranom, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Menekuni profesi sebagai petani merupakan pilihan pasti mayoritas warga disini, dengan ber-panca usaha tani, warga desa setiap hari mengais rejeki bersama diladang maupun sawah. Hujan adalah anugrah yang tak terduga bagi mereka karena dari air hujanlah warga dapat mengolah sawah dan ladang sehingga dapat menghasilkan beras, jagung maupun singkong, yang tak hanya sebagai bahan makanan pokok saja tetapi juga untuk meningkatkan perekonomian.

Di Desa Gambiranom, terselip kebahagiaan tersendiri yang tidak akan didapatkan ketika berada diperkotaan, pasalnya, didesa ini masih ada salah satu kesenian yang sudah langka dan sudah ditinggalkan oleh anak muda jaman sekarang. COKEKAN pernah menjadi tontonan favorit bagi masyarakat Jawa di era tahun 1970-an, namun kini semakin tidak dikenal khususnya kaum muda, sangat asing ditelinga mereka, penggemar yang masih tersisa hanya dari golongan tua-tua, yakni golongan yang masih suka mendengar lantunan gendhing maupun tembang atau nyanyian yang dilantunkan oleh sinden dengan merdu.

Sinden muda mulai merambah seni tradisional (foto @ noor)

Cokekan merupan seni musik tradisional yang menggunakan gamelan sebagai alat utamanya, yang persis dengan karawitan, namun alat tabuh dan personalnya lebih sedikit. Adapun gamelan dalam seni cokekan yang digunakan hanya siter, gendang, slenthem, gong besar, gender, gambang, rebab dan suling serta ditambah beberapa biduan sinden sebagai vokalnya.

Roso Manunggal adalah nama kelompok grup cokekan yang ada di Desa Gambiranom yang kini kerap tampil mengisi diberbagai acara dan event, seperti memperingati hari kemerdekaan, malam satu suro atau suran dan kegiatan-kegiatan lain didesa. Kerap tampil juga dalam acara pesta pernikahan dan sejenisnya, grup cokekan ini tampil tak hanya didaerah sekitar tapi juga diluar wilayah, yakni diluar kecamatan bahkan hingga keluar kabupaten.

Kehadiran grup cokekan ini, membuat warga mulai mengenal kembali kesenian yang hampir punah karena perkembangan jaman. Ternyata tak hanya para orang tua tapi juga anak muda banyak yang suka dengan keseninan tersebut, terbukti bahwa anggota penabuh atau yang disebut niyogo adalah anak-anak muda yang suka terhadap kesenian, dan juga para kaum putri, dari ibu muda sampai pelajar banyak yang ikut serta menjadi pengisi suara atau sinden, sungguh benar-benar fantastis.

Penampilan grup cokekan Roso Manunggal dengan gamelan jawa (foto @noor)

Latihan rutin diagendakan sebagai ajang memajukan kesenian tersebut menjadi lebih bagus dan lebih mumpuni lagi agar tidak kalah dengan kesenian modern yang meluas diera sekarang.

Pria yang penuh talenta, Karman, selaku ketua dari grup cokekan tersebut, terus memacu semangat dan mengajak masyarakat agar lebih mengenal kesenian tradisional, dengan selalu giat berlatih atau sering disebut trem yang bertempat di Dusun Puhnunggal, Desa Gambiranom.

Kesenian yang sering menggunakan nada pelog tersebut kini sudah terkenal, baik didunia nyata maupun didunia maya seperti youtube sehingga sudah tersebar dan dikenal dengan cepat oleh khalayak ramai. Walaupun tak seberapa mereka menerima honor setiap kali tampil disuatu acara, tidak menyurutkan niat dan semangat untuk tetap menampilkan dan melestarikan kesenian cokekan tersebut. [noor]

Tinggalkan Komentar